
JIKA kita berlayar di antara wilayah hukum Maroko dan Spanyol, terbentanglah sebuah Selat Jibaltar (dari bahasa Arab yang berarti Bukit Toriq). Tak sekedar nama tapi tergores oleh perjalanan sejarah panjang dalam membuka wilayah Cordova di Spanyol.
Saat itu Khalifah Dinasti Umayyah Haitsam Masyfek Al-Sundusi mengirimkan ribuan pasukan dari Mesir menuju Spanyol di Eropa. Mereka dipimpin Toriq bin Ziyad, seorang pria elok usia 40 tahun yang lahir di Yaman. Sesampai di Maroko mereka membuat kapal perang guna menyeberangi selat, yang kemudian namanya diabadikan hingga kini. Begitu mendarat Toriq berpidato “amamuna a’da, wa waro ana bahrun, wa ainal mafar? (depan kita menghadang musuh yang siap menghunjam kita, belakang kita terbentang laut sangat luas, lantas kemanakah kita bersembunyi?). Pidato inilah yang membangkitkan semangat tentara saat menduduki Cordova. Mereka, membangun tonggak sejarah terbaru di daratan Eropa bernama Al-hamra sebagai pusat kebudayaan Islam, deretan tempat ibadah beserta perpustakaan.
Sepulang dari Spanyol, bukan dianugerahi Bintang Maha Putera, atau setangkai pohon Zaytun, tetapi ia diborgol dan dikerangkeng masuk penjara dengan isu politik “membakar kapal-kapal perang” milik pasukan Umayyah saat merebut Cordova. Inti persoalan bukan itu, namun ada persaingan soal siapakah khalifah yang menggantikan Haitsam yang sakit-sakitan saat itu. Pesaing utama adalah “komandan” hulubalang kerajaan bernama Hasyim bin Talal. Jadi ia otaknya, padahal pria ini tidak pernah bertempur di medan laga. Ia lihai dalam mengotak atik porto folio Umayyah dan memindahkan orang dan memecat pejabat negara dengan bisikannya yang dahsyat kepada khalifah di lingkungan istana.
Era Reformasi sudah banyak pejuang pembangunan yang sukses tapi tetap saja mereka dikecam, bahkan difitnah dan dipenjarakan. Ada orang yang menjadi pelayan umat dan pelayan tamu Allah serta berhasil mengembangkan dana milik umat tapi dihadiahi bui dengan isu memperkaya orang lain.
Kebenaran sulit dibendung manakala “pengkhianatan” berkeliaran untuk menghadang. Kesucian makna ketika berjuang demi bangsa kadangkala hanya diukur oleh kepentingan ashobiyah sesaat, manakala kita sudah kehilangan akal sehat. Masih bersyukur, kita tidak masuk dalam daftar toghut (secara fisik muslim tapi cara berpikir, bertindak, dan berbuat mirip seperti orang kafir).
Seharusnya, kita juga malu terhadap pejuang di republik ini. Ambil saja contoh, semua pejuang 10 Nopember 1945 hingga detik ini ada mata rantai yang terputus seperti tentang siapakah sebenarnya yang membunuh Jenderal Mallaby, asal Inggris yang jadi komandan pasukan sekutu untuk menggempur Surabaya dengan sandi “Corocodile”? Padahal taktik seperti ini efektif untuk memancing pecahnya perang di Surabaya antara rakyat Indonesia dengan pasukan Sekutu. Bahkan, orang yang merobek bendera Belanda di Hotel Yamato, tidak pernah mau mengakui “saya pahlawan”, semuanya tersembunyi. Biarlah ia sebagai ibadah dan amal jariyah untuk “karcis” menghadap Ilahi Robbi.
Sangat sulit ditulis semua deretan pejuang republik ini mulai Halim Perdanakusumah, Sam Ratulangi, Ngurah Rai, Frans Kaiseppo dan ratusan lain yang tidak diketahui warga sebagai pejuang tetapi mereka itu gugur di medan laga sebagai pejuang mempertahankan Merah Putih. Kita wajib hormat kepada mereka, karena mungkin saja tanpa semangat dan perlawanan bertempur, kita masih di dalam tataran negara yang terjajah dalam artian fisik selain yang paling utama kita juga memahami bahwa Allah SWT tidak ikhlas negeri yang diharapkan pejuang menjadi baldatun toyyibatun wa robbun ghofur teraniaya oleh bangsa lain.
Sekarang yang penting bagaimana kita sebagai khalifah di bumi Indonesia menghargai perbedaan pendapat sebagai hikmah dari multi rasial yang berada di bawah naungan Sang Saka. Ada tulisan di altar di wilayah Sacramento, yang digores suku Indian kuno Apache, yang artinya “kamu tidak akan sanggup menguasai suatu wilayah yang kamu cintai tetapi kamu hanya sebatas menghormatinya. Maka itu, tanamlah pohon agar anak cucumu dapat menikmatinya”.