
BENTANGAN daratan wilayah perbatasan RI – Malaysia, yang jaraknya sama dengan Jakarta – Madiun di Jawa Timur, hanya ada 16 titik pos. Yang resmi baru ada satu, yakni di Entikong. Akibatnya, banyak jalan tikus yang dilintasi manusia berwatak jahat. Inilah menjadi pilihan Laporan Utama kami di edisi ke 2 Majalah POROS, terbitan bulan Februari 2007.
Kami juga menyajikan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perfilman, yang masih terkesan dianaktirikan, akibat tiadanya uang pelicin. Kami juga sadar, para pembaca menginginkan bacaan santai. Maka itu, kami juga sajikan alam laut indah Bunaken, sambil mengajak pembaca bertamasya ke Sulawesi Utara yang elok, saat membaca majalah yang terbit full colour dengan 76 halaman. Ini juga berarti, masih ada kepercayaan masyarakat, dengan indikator ada peningkatan di dalam halaman dan tiras.
Cerminan masyarakat Madani adalah, selalu berpegang teguh pada kinerja yang aktual dan faktual. Prinsip dasarnya, hasil karya sekarang, tentu lebih baik dibandingkan kemarin, dan daya cipta esok hari lebih sempurna dari hari ini. Prinsip yang dianut oleh Majalah POROS terkait dengan pola pengembangan berita, opini dan investigasi yang selalu bergerak.
Karya yang lahir pertama, kami luncurkan di Hotel Salak Bogor, Jawa Barat pada penghujung tahun 2006 oleh Menkumham DR. Hamid Awaludin. Diharapkan mampu menyajikan media cetak yang bernuansa hukum seperti saat kami bangun pertama kali media ini tiga bulan lalu. Kami masih mempertahankan rubrikasi yang ada, ditambah Olah Raga dan Lintas Nusantara. Komposisi di berita hukum 60 persen. Sedangkan dunia politik, ekonomi, luar negeri ada 20 persen, dan sisanya 20 persen lagi membahas sisi ilmu pengetahuan, sosial dan hiburan.