ADA pertemuan internasional di Legian, Pulau Dewata mulai tanggal 22 hingga 23 Mei 2007, soal sewa guna pesawat angkut komersial. Pesertanya seluruh dunia, dimotori NGO yang selama ini peduli terhadap dunia penerbangan sipil. Pertemuan menyamakan persepsi tentang sewa pewat komersial, agar kreditor tidak dibobongi oleh sepak terjang debitor nakal, yang selama ini menggeluti dunia operator penerbangan sipil. Sajian khas ini kami tempatkan pada Rubrik FOKUS dalam edisi ke empat bulan Mei 2007.
Ketika orang sudah mulai melupakan tragedi kemanusiaan di dua kota Hiroshima dan Nagasaki yang dihantam oleh negara “Paman Sam”, POROS kembali mengingatkan dan ikut menyalakan mesin turbo, semakin panas semakin kencang, bukan mesin bubut yang kalau sudah panas keluar asap siap-siap menuju kebakaran. Untuk itu, dalam Laporan Luar Negeri, kali ini kami kirim wartawan kami Amijo sendirian ke Jepang, untuk merekam ulang dahsyatnya hantaman “little boy” alias si bom atom yang menghanguskan bagian penting Negeri Sakura tahun 1945, tepatnya hari Senin 6 Agustus, agar umat manusia paham dan mengerti bahwa nuklir haram hukumnya untuk digunakan membuat senjata. Akan lebih indah lagi, jika nuklir dipakai untuk pembangkit listrik dan aktivitas non militer, ketika gas dan minyak bumi mulai berkurang drastis di kerak bumi manusia.
Sungguh kehormatan besar bagi kami dapat wawancara khusus di sebuah hotel di Jakarta dengan mantan tokoh di Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Tengku Malek Mahmud dan kawan-kawan. Ada sisi lain plus penghormatan khusus kepada mantan Menkumham, Hamid Awaludin yang telah berjasa mengembalikan citra GAM menjadi bagian penting dalam gugusan Merah Putih.
Di Rubrik Agama, kami paparkan soal salah pandang masyarakat terhadap pola pemikiran K.H. Ahmad Rifa’i, Ulama besar asal kampung Kalisalak, Pekalongan, Jawa Tengah yang di masa kolonial Belanda, pemikirannya dianggaap ‘keras’ oleh si penjajah. Akibatnya, hingga detik ini masih membias kuat kepada pola pelajaran sejarah di bangku sekolah. Kami punya data lengkap tentang buku-buku yang ditulis tokoh yang lahir jauh sebelum kelahiran Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama.(NU). Sebuah karya manusia terlupakan yang layak disimak dan dikaji ulang bahwa untuk kesekian ribu kalinya si Belanda sengaja membohongi rakyat Indonesia dalam menoreh sejarah riil di masa silam tokoh-tokoh berkelas yang dianggap marginal.
Untuk menangkap sinyal semakin beratnya beban tugas seorang menteri, sebagai pimpinan di departeman yang besar, perlu juga kehadiran seorang Wakil Menteri, yang mungkin hampir tidak jauh beda kedudukannya seperti pada masa Orde Baru ketika ada Menteri Muda. Kami sengaja menggelarnya di dalam Laporan Utama untuk membuka wawasan. Sebenarnya dalam berbangsa dan bernegara, kita tidak boleh kaku hanya pada satu aturan main saja. Ada sisi lain dari langkah ke arah itu untuk efisiensi terutama tugas sebagai pejabat publik. Bahkan, untuk soal ini mulai menggelinding keras di kalangan pengamat politik dan praktisi hukum sebagai suatu keharusan menempatkan seorang Wakil Menteri di departemen yang pekerjaannya dianggap ultra besar.